LSM SILFA, Minta Bupati Aceh Utara Kembalikan Cru Yang Sudah di Tetapkan di PKG Cut Mutia

Publication Date: 2014-12-11

 Pasca penahanan 3 (tiga) unit excavator milik PT. Mandum Payah Tamita (PT.MPT) oleh masyarakat di 3 Kecamatan dalam bentang Sungai Kr. Kreto pada Tanggal 10 November 2014 lalu di Dusun Bate Ule Desa Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara, kini kondisi dilapangan seluruh aktifitas perusahaan telah berhenti sementara. Sementara 3 unit beco mereka yang ditahan kini telah ditarik oleh perusahaan mitra PT.MPT kembali ke Sumatera Utara.

Menyikapi hal tersebut, kami mendesak Pemerintah Aceh Utara untuk segera mengembalikan kembali posisi CRU (Conflik Respon Unit) Cut Mutia kembali ketempatnya dalam Pusat Konservasi Gajah (PKG) Cut Mutia. Karena secara legalitas yang ditunjuk adalah lokasi di Log Pond areal PT.MPT, bukan dilahan masyarakat Transmigrasi Lokal (Translok) Lubuk Tilam. Selain tidak layak kondisinya bagi CRU, manajemen CRU Cut Mutia juga menjadi tidak nyaman karena berada diareal masyarakat. Pertimbangan mendasar adalah, CRU Gajah yang dibiayai oleh APBD Aceh Utara terbentuk untuk menangani respon cepat terhadap konflik satwa dan manusia khususnya ganguan Gajah yang sering terjadi diwilayah Aceh Utara dan sekitarnya. Dengan kehadiran CRU, sudah menujukan pengurangan konflik yang terjadi saat ini. Agar berjalan dengan baik dan tidak menyalahi prosedur dan membebankan pihak masyarakat disana, SILFA meminta kepada Bupati selaku kepala Daerah di Aceh Utara mengembalikan CRU kedalam areal Hutan Lindung Cut Mutia yang telah disiapkan oleh pemerintah. Kekhawatiran kami, Kebutuhan pakan dan ketersediaan air dilokasi saat ini dalam areal kebun masyarakat Translok sangat tidak memadai. Sementara Gajah-Gajah kita diharapkan fisik dan kesehatan nya untuk mengatasi konflik yang dulu nya kerap terjadi. Kesehatan dan kebersihan lahan juga sangat dibutuhkan Gajah dalam merawat serta menjaga kondisi gajah-gajah yang ada disana. Saat ini alur-alur kecil yang airnya sangat sedikit menjadi tempat membersihkan dan memandikan gajah oleh para Mahot Gajah dirasa tak mencukupi untuk seluruh gajah disana. Oleh karena itu, lokasi yang telah disediakan oleh pemerintah sudah cukup memadai bagi gajah karena berada langsung disamping sungai Kr. Kreto. Selain itu kami minta untuk anggaran pembangunan tempat penginapan para Mahot Gajah dan sarana yang menjadi pendukung CRU segera dibangun agar kepastian peran CRU menjadi permanen dilokasi tersebut. Serta meningkatkan anggaran bagi kebutuhan pakan gajah yang saat ini sangat pas-pasan bagi Gajah dan kebutuhan para Mahot Gajah disana. Kepedulian kita terhadap Gajah dan Para Mahot harus diprioritaskan karena tugas mereka cukup berat dalam mengatasi konflik yang kerap kapan saja akan terjadi pada masyarakat dan lahan pertanian serta perkebunan rakyat. Hutan Lindung Cut Mutia, sebagian telah diperuntukan untuk Pusat Konservasi Gajah (PKG) Cut Mutia ini harus difungsikan sesuai dengan yang telah ditetapkan tata ruang dan fungsinya sebagai CRU dan pusat konservasi gajah sumatera di Aceh Utara yang menjadi program Pemerintah Aceh Utara dalam menyikapi penanganan konflik satwa gajah liar dan manusia disana.

URL: http://www.acehtraffic.com/2014/12/lsm-silfa-minta-bupati-aceh-utara.html